Jumat, 13 April 2012

Sukses Itu Jujur

SUKSES ITU JUJUR 
Mengaktualisasi kejujuran dalam keseharian

Setiap manusia pasti memiliki kecenderungan untuk sukses. Ya, kesuksesan sekarang telah menjadi keharusan bagi setiap umat manusia, tentu hal ini dikarenakan berbagai faktor prestige yang membuat mereka berusaha sekuat tenaga untuk meraihnya, faktor itu antara lain, penghormatan, kekayaan dan kebahagiaan.
Ditinjau lebih jauh, apa sih sukses itu ? Apakah sukses itu adalah saat anda berhasil mendapatkan pekerjaan yang anda damba-dambakan? Saat anda berhasil membahagiakan orang tua anda ? atau saat anda berhasil menjadi kaya-raya ? Sungguh, saya prihatin jika kita mendefinisikan sukses itu demikian, menjadi sukses itu bukanlah mendapatkan apa yang kita inginkan, tapi berkewajiban menginternalisasi dan mengaktualisasi perilaku yang baik dalam ruang kehidupan kita yakni sukses dalam mengembangkan moral yang beradab.
Moral kita telah bergeser teman, dengan motif demikian seolah-olah sukses itu hal yang perlu digenggam tiap insan. Anda sukses belum tentu itu baik. Menjadi sukses itu adalah bermanfaat bagi orang lain. Menjadi sukses adalah berperilaku baik dengan menjunjung moral madani dalam tiap unsur kehidupan, bukan menjadi terbaik dalam kehidupan.
Pernah suatu ketika seorang anak bercerita kepada Ibunya “ Bu, aku kesal teman-teman aku saat ujian tadi saling contek-contekan. Dikasih tau mereka malah musuhin aku”. Sang Ibu menjawab “Ya sudah, kamu nyontek aja, teman-teman kamu juga pada nyontek kan, nanti malah nilai kamu jelek sendiri”. Jawaban inikah yang kita harapkan dari mulut seorang ibu yang harusnya menjadi teladan dalam kejujuran? Sungguh ironis. Karena semakin tingginya keinginan untuk meraih kesuksesan, kita seolah terpacu untuk melakukan apa saja agar keinginan kita tercapai.
Beberapa berargumen, orang bisa jujur dalam ujian , itu karena ia memiliki kemampuan intelegensi yang memang diatas rata-rata, ia sudah yakin bahwa jika ia mengerjakan sendiri ia pasti bisa. Lalu bagaimana dengan yang memiliki kemampuan intelegensi yang pas-pasan ?. Sungguh, Tuhan telah dengan bijaknya memberi kita masing-masing otak untuk kita kembangkan nilai didalamnya. Manusia dengan segala kelebihannya pasti mampu menggunakan otaknya untuk hal yang sudah jelas makna baiknya. Belajar dan berusahalah, tak ada yang mustahil. Percaya diri dalam ujian adalah kuncinya.
Sungguh, hal yang membuat saya sangat geram adalah, di beberapa sekolah justru oknum pengajar sendiri yang mengintegrasikan berbagai komponen di sekolahnya untuk bersolidaritas saling membantu agar tingkat kelulusan ujian mereka tinggi. Jujur, ini pernah terjadi di sekolah saya dulu zaman SD, kami semua siswa-siswi kelas 6 dikumpulkan dalam satu ruangan diberi doktrin agar saling membantu dalam kebohongan, saling membantu dalam memberi jawaban. Sebagai anak SD, saya sudah merasakan kekesalan dalam diri, namun yang terjadi adalah sebuah sistem yang luas dan akbar telah menindas saya dalam jurang kemerosotan moral itu. Tak ! tak akan lagi saya ulangi, saya sudah cukup dewasa untuk melawannya sekarang.
Teman, bangkitlah ! jika dalam kehidupan kita terbiasa untuk bertindak tidak jujur, menjadi apa kelak kita 10 tahun lagi. Kitalah cikal bakal penerus bangsa yang sudah porak-poranda ini. Kita cinta Indonesia, tak selayaknya cinta itu dipancarkan dengan mengembangkan moral tak berpendidikan seperti ini di negeri tercinta kita. Tujuan utama berkuliah bukanlah sekedar IP tinggi bahkan IP sempurna 4.00. Bukan juga sekedar belajar berorganisasi untuk memasuki dunia kerja kelak. Di perkuliahan ini kita dituntut menjadi manusia madani, manusia yang religius dan manusia yang mampu menerapkan moral dan etika tinggi dalam kehidupannya.
Untuk apa kita belasan tahun menuntut ilmu dari SD sampai perguruan tinggi jika waktu yang sangat lama dan berharga ini kita gunakan hanya untuk mengembangkan perilaku tidak jujur ini. Di dunia ini, mencari orang yang pintar dengan lulusan terbaik dari berbagai universitas terbaik sangat mudah. Tapi menemukan manusia yang pribadinya selalu mengutamakan kejujuran adalah setengah mati sulitnya.
Jadilah yang berbeda bukan yang terbaik, jadilah manusia yang jujur bukan sekadar sukses.
Berjanjilah jika anda cinta Indonesia, berhenti budayakan ketidakjujuran dalam ujian J

By :
Astia Putriana
S-1 Akuntansi
LPM JURNAL KAMPUS

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar