Minggu, 22 April 2012

Potensi besar sumber daya energi lain, kapan eksplorasinya ?


Potensi besar sumber daya energi lain, kapan eksplorasinya ?

Miris. Hati saya terasa terpukul oleh rajam berat ketika mendengar banyak fakta  mencengangkan tentang bagaimana Sumber Daya Alam di Indonesia dialokasikan. Meski secara parsial mengikuti namun saya begitu menikmati seminar yang dilaksanakan oleh HIMIESPA Fakultas Ekonomi Unlam dalam rangka pelaksanaan acara ECSOS (Economic Solutions) di Aula Bapedda (18/04). Memang dalam seminar dengan tema “Menatap Masa Depan Lumbung Energi dan Kelestarian Sumber Daya Alam di Indonesia” pembicara dari Kementerian ESDM, PT. Adaro dan PT. Pertamina dengan mantap menjelaskan bagaimana Sumber Daya Energi di Indonesia terutama minyak bumi dan batubara dialokasikan demi kepentingan rakyat .
Fakta yang membuat saya geram adalah kekayaan batu bara yang dimiliki Indonesia kebanyakan di ekspor ke Negara Cina dan India yang notabene adalah penghasil batubara yang lebih potensial dan lebih banyak daripada Indonesia, sejak beberapa tahun yang lalu mereka telah berhenti melakukan ekspor batubara dari negara mereka. Sedang kita ? masih dengan segala keserakahannya menjual secara besar-besaran kepada mereka yang justru sangat memanfaatkan potensi sumber daya energI mereka secara efektif dan efisien untuk kepentingan rakyatnya.
Sejatinya hasil tambang yang ada di Indonesia dieksplorasi untuk kepentingan dalam negeri dan peningkatan GNP namun dari miliaran ton batu bara yang dijual tiap tahun nya Indonesia hanya meraup profit sebesar kurang lebih 23 triliun rupiah, itulah yang saya tangkap dari penuturan Staf Ahli Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Marwansyah Lobo Balia, MSC. Solusi atas hal ini adalah penggunaan alternatif sumber energi lain yang mampu mengganti sumber daya batu bara dan minyak bumi yang semakin hari semakin mengalami degradasi kuantitas.
Yang menarik adalah Indonesia sebagai Negara yang memiliki gunung api yang membentang dari ujung barat Indonesia sampai ujung timur Indonesia koheren dengan potensi panas bumi yang super pantas dimanfaatkan. Dari potensi sekitar 28ribu megawatt yang dapat dihasilkan dari panas bumi Indonesia hanya sekitar seribu megawatt yang baru dimanfaatkan. Hal inilah yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah, selayaknya potensi alamiah ini harus digunakan guna menunjang keterbatasan energi pengganti batu bara dan minyak bumi saat ini.
Namun membanggakan sekali ketika saya perhatikan bahwa PT Pertamina dan PT Adaro dapat secara gamblang menyebutkan bagaimana mereka sebagai perusahaan yang besar berkontribusi dalam berbagai aspek humanistik masyarakat dan pemerintah, PT Adaro misalnya mereka dapat memanfaatkan air galian yang tercemar tambang batu bara untuk diproses kembali dengan melakukan filterisasi yang tepat sehingga dapat diminum, mereka menamakan program ini “Water Treatment Plant”. Selain itu dari proses pemanfaatan tambang itu pula mereka dapat membantu peningkatan sektor lain, sehingga jika sektor tambang telah habis ataupun mati sama sekali dalam puluhan tahun kedepan, akan ada sektor lain yang dapat berkembang menggantikannya . Ada sekitar ratusan sektor baik jasa  maupun perdagangan serta perikanan yang berhasil dikembangkan perusahaan tambang ini.
Akhirnya, sudah selayaknya pemerintah mampu membuka kembali lemari arsip mereka, tengoklah potensi sumber daya energi di Indonesia yang ribuan ini terutama panas bumi tadi, selain itu diharapkan berdasarkan UU Energi No 30 tahun 2007 pemerintah sepenuhnya menjalankan asas konservasi dan diversifikasi secara komprehensif demi kepentingan masyarakat. Dengan paradigma sumber daya energi yang berkonversi dari komoditas menjadi modal pembangunan tentu sangat diharapkan terwujudnya negara yang mampu menyejahterakan masyarakatnya dan mendorong ke arah pemenuhan sumber daya energi yang murah dan mudah bagi masyarakatnya.

Fakta tentang Sumber Daya Energi di Indonesia :
1.      Keperluan listrik di Indonesia hanya dapat terpenuhi 60% saja
2.      Perbandingan penggunaan energi Indonesia dengan Amerika Serikat adalah 1 : 20 . Dalam hal ini Indonesia memang sedikit menggunakan energi namun kurang efisien dalam pemanfaatannya.
3.      Peraturan perizinan pertambangan sebelum ada otonomi daerah adalah ratusan namun sesudahnya menjadi ribuan.
4.      Tambang Indonesia merupakan 1,3% cadangan tambang dunia.
5.      Konsumsi subsidi bahan bakar terbesar di Indonesia digunakan oleh mobil pribadi.
6.      Indonesia masuk 10 besar negara dengan potensi tinggi masuknya investor untuk usaha pertambangan namun Indonesia juga masuk 10 besar terendah sebagai negara dengan iklim tidak kondusif bagi pengusahaan tambang baik dari segi regulasi maupun akses nya.

By : Astia Putriana
S-1 Akuntansi
LPM Jurnal Kampus FE Unlam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar