Minggu, 15 April 2012

Jangan kekang BEM dengan Proker


Jangan kekang BEM dengan Proker

BEM, Badan Eksekutif Mahasiswa dengan segala pengaruhnya di Fakultas Ekonomi kini terasa begitu jauh bagi mahasiswa. Badan yang semestinya menyalurkan aspirasi civitas akademika Fakultas Ekonomi ini dirasa kurang efektif dalam tiap kegiatannya. Bagaimana tidak, dari sekian banyak program kerja yang dijalankan BEM selama ini, dirasa hanya sekian persen yang memberi manfaat bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi itu sendiri.
Sebutlah acara AMPP, mungkin anda berpikiran bahwa acara tersebut memang baik sebagai wujud kepedulian mahasiswa sebagai insan sosial . Namun apa manfaatnya jika ditinjau dari segi internal?  Tak ada dampak berarti yang dirasakan mahasiswa non organisatoris atas adanya kegiatan tersebut.
Seorang yang memiliki kedudukan tinggi di Fakultas Ekonomi pernah berkomentar, entah berapa banyak acara yang telah dilaksanakan oleh mahasiswa aktif disini baik dari BEM maupun HMJ dan UKM, namun saya lihat justru acara-acara yang mereka adakan kurang memberi manfaat bagi panitianya itu sendiri. Cobalah bikin acara yang tidak hanya membuat cape tapi memberi manfaat bagi panitianya.
Sebuah organisasi sebesar BEM memang memiliki integritas yang tinggi dalam pencapaian mahasiswa yang tidak hanya sukses dalam akademik tapi juga bermutu dari segi attitudenya. Namun, disadari atau tidak , BEM seolah lebih tunduk pada “ratu” program kerja yang menuntut untuk dilaksanakan, tak bisakah BEM lebih merangkul kepentingan yang lebih pokok yakni mahasiswa Fakultas Ekonomi itu sendiri ?
Himpunan sendiri sebagai “anak” dari BEM dirasa memiliki kesamaan intrik dalam skenario journey of the activity nya, Himpunan seolah mendasarkan dirinya atas asas eksistensi, semakin besar ruang lingkup wilayah yang mampu ditembus sebuah acara yang mereka adakan, semakin lebar sayap keagungan nama mereka membentang di jagad universitas, namun kembali lagi tak selamanya pencitraan itu yang diandalkan , yang menjadi fokus utama adalah bagaimana himpunan itu menjadi “wadah” yang memang menghimpun mahasiswa jurusannya ke arah yang lebih baik, bukan sebagian, tapi semua. Maka dari itu, perbaikan orientasi tentu harus dimulai dari akarnya yakni BEM itu sendiri.
Sudah selayaknya BEM menilik lebih lanjut problematika ini, tak perlu sungkan dan tak perlu tutup telinga terhadap kendala umum ini, lakukan perbaikan dari segi program kerja, lebih seringlah melakukan dialog terbuka dengan mahasiswa-mahasiswa non organisatoris, karena siapa tau mereka memiliki aspirasi tak tersampaikan diakibatkan renggangnya relationship ini.

Mahasiswa kritis
Mahasiswa tak egois
Pun Mahasiswa tak semestinya apatis

By : Astia Putriana
S-1 Akuntansi
LPM Jurnal Kampus FE Unlam

3 komentar:

  1. opini yang bagus .... mantap ...

    BalasHapus
  2. haha, hasil diskusi panjang kita2.. semoga bermanfaat !

    BalasHapus
  3. Paradigma sperti sdh terbentuk.. Mengakar kuat... Entah siapa yg mnjd pelopornya??

    BalasHapus