Minggu, 22 April 2012

Hargai aku, teman


Aku heran mengapa orang-orang berkata aku beruntung
Apa mereka yakin dengan omongan mereka?
Mereka terlalu mengintervensi ku

Aku memang tak semudah itu menerimanya
Aku senang
Tapi bukan itu realitas nya
Aku dengan peluhku mendapatkan semua ini
Bukan sekadar menadahkan tangan
Atau sekadar duduk diam di bilik pribadiku

Aku berjuang
Aku dengan pengorbananku
Aku dengan segala kecemasanku
Aku dengan segala rintihan kecil dalam hatiku

Aku tak terpuaskan akan ini
Aku belum bebas
Aku belum merangkul asa yang selama ini kupendam

Meski aku sadar ini jalanku
Namun ini bukan nasibku
Ikrar itu masih membahana dalam raga ini

Andai jiwaku dapat digandakan menjadi jiwa lain
Anda raga ini dapat dibagi menjadi inginku
Aku bisa lakukan lebih banyak lagi
Mengapa kalian tidak ?

Tidak, hilangkan asas keberuntungan itu dari hidup kalian
Itu hanya bagian konvensional yang tak baik dipelihara
Aku tidak pernah beruntung
Aku selalu bersahabat dengan kerja keras
Yang membimbingku dalam jejak dimensi kemenangan

Aku tak munafik
Aku tak pula berusaha arogan
Namun dari ini aku memotivasi diriku
Bahwa keberuntungan itu hanya 1% hidupku
Selebihnya aku tetap dengan usahaku
Tetap dengan peluhku

Hargai aku
Aku hanya ingin membantumu teman
Segalanya tak ada yang instan
Percayalah . . .

By : Astia Putriana
S-1 Akuntansi
LPM Jurnal Kampus FE Unlam


Tidak ada komentar:

Posting Komentar