Selasa, 24 April 2012

Dihujat ?


Dihujat ?
Ohh inikah yang namanya dihujat ?
Betapa menggembirakan sekaligus mengherankan, satu pengalamanku menggariskan tinta hitam dalam media hitam putih terujung . Kala aku beri noktah gagasan itu aku tak sendiri, aku beri sentuhan ekstra rasa dari mulut beberapa insan yang menginginkan kemajuan. Yaa.. ini hanya hasil pemikiran.
Dan dipendari sinar remang-remang dalam gelap kutuliskan , kuraba tiap jentik rasa usang hati yang perlu untuk diberi mimpi. Tak ! Aku tak berusaha mendistorsikanmu, aku menghormatimu, aku hanya menyimpulkan beberapa persepsi nada diantara gulita. Dan linguistik ku bekerja, siang dan malam menjadi lebih bersahaja kala jemari mengetikkan makna yang tiada tara.
Tak kusangka, hasilnya begitu lincah, bergema sahutan kau sebut itu tak identik dengan realistis, aku tak diam namun tak juga sakras menanggapinya, aku senyum, kau berhasil memasang kacamatamu meski dalam waktu singkat, aku senang kau menanggapinya.
Bukan suatu intervensi yang aku lakukan, hanya sebuah pengungkapan opini. Kau tak suka? Ya, itu hak mu, aku tak gusar, aku tak pula angkat kepala. Demikian kiranya aku mempengaruhimu untuk kemajuan, semoga menjadi awal progress yang mantap kelak.

By : Astia Putriana
S-1 Akuntansi
LPM Jurnal Kampus FE Unlam

Minggu, 22 April 2012

Hargai aku, teman


Aku heran mengapa orang-orang berkata aku beruntung
Apa mereka yakin dengan omongan mereka?
Mereka terlalu mengintervensi ku

Aku memang tak semudah itu menerimanya
Aku senang
Tapi bukan itu realitas nya
Aku dengan peluhku mendapatkan semua ini
Bukan sekadar menadahkan tangan
Atau sekadar duduk diam di bilik pribadiku

Aku berjuang
Aku dengan pengorbananku
Aku dengan segala kecemasanku
Aku dengan segala rintihan kecil dalam hatiku

Aku tak terpuaskan akan ini
Aku belum bebas
Aku belum merangkul asa yang selama ini kupendam

Meski aku sadar ini jalanku
Namun ini bukan nasibku
Ikrar itu masih membahana dalam raga ini

Andai jiwaku dapat digandakan menjadi jiwa lain
Anda raga ini dapat dibagi menjadi inginku
Aku bisa lakukan lebih banyak lagi
Mengapa kalian tidak ?

Tidak, hilangkan asas keberuntungan itu dari hidup kalian
Itu hanya bagian konvensional yang tak baik dipelihara
Aku tidak pernah beruntung
Aku selalu bersahabat dengan kerja keras
Yang membimbingku dalam jejak dimensi kemenangan

Aku tak munafik
Aku tak pula berusaha arogan
Namun dari ini aku memotivasi diriku
Bahwa keberuntungan itu hanya 1% hidupku
Selebihnya aku tetap dengan usahaku
Tetap dengan peluhku

Hargai aku
Aku hanya ingin membantumu teman
Segalanya tak ada yang instan
Percayalah . . .

By : Astia Putriana
S-1 Akuntansi
LPM Jurnal Kampus FE Unlam


Potensi besar sumber daya energi lain, kapan eksplorasinya ?


Potensi besar sumber daya energi lain, kapan eksplorasinya ?

Miris. Hati saya terasa terpukul oleh rajam berat ketika mendengar banyak fakta  mencengangkan tentang bagaimana Sumber Daya Alam di Indonesia dialokasikan. Meski secara parsial mengikuti namun saya begitu menikmati seminar yang dilaksanakan oleh HIMIESPA Fakultas Ekonomi Unlam dalam rangka pelaksanaan acara ECSOS (Economic Solutions) di Aula Bapedda (18/04). Memang dalam seminar dengan tema “Menatap Masa Depan Lumbung Energi dan Kelestarian Sumber Daya Alam di Indonesia” pembicara dari Kementerian ESDM, PT. Adaro dan PT. Pertamina dengan mantap menjelaskan bagaimana Sumber Daya Energi di Indonesia terutama minyak bumi dan batubara dialokasikan demi kepentingan rakyat .
Fakta yang membuat saya geram adalah kekayaan batu bara yang dimiliki Indonesia kebanyakan di ekspor ke Negara Cina dan India yang notabene adalah penghasil batubara yang lebih potensial dan lebih banyak daripada Indonesia, sejak beberapa tahun yang lalu mereka telah berhenti melakukan ekspor batubara dari negara mereka. Sedang kita ? masih dengan segala keserakahannya menjual secara besar-besaran kepada mereka yang justru sangat memanfaatkan potensi sumber daya energI mereka secara efektif dan efisien untuk kepentingan rakyatnya.
Sejatinya hasil tambang yang ada di Indonesia dieksplorasi untuk kepentingan dalam negeri dan peningkatan GNP namun dari miliaran ton batu bara yang dijual tiap tahun nya Indonesia hanya meraup profit sebesar kurang lebih 23 triliun rupiah, itulah yang saya tangkap dari penuturan Staf Ahli Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Marwansyah Lobo Balia, MSC. Solusi atas hal ini adalah penggunaan alternatif sumber energi lain yang mampu mengganti sumber daya batu bara dan minyak bumi yang semakin hari semakin mengalami degradasi kuantitas.
Yang menarik adalah Indonesia sebagai Negara yang memiliki gunung api yang membentang dari ujung barat Indonesia sampai ujung timur Indonesia koheren dengan potensi panas bumi yang super pantas dimanfaatkan. Dari potensi sekitar 28ribu megawatt yang dapat dihasilkan dari panas bumi Indonesia hanya sekitar seribu megawatt yang baru dimanfaatkan. Hal inilah yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah, selayaknya potensi alamiah ini harus digunakan guna menunjang keterbatasan energi pengganti batu bara dan minyak bumi saat ini.
Namun membanggakan sekali ketika saya perhatikan bahwa PT Pertamina dan PT Adaro dapat secara gamblang menyebutkan bagaimana mereka sebagai perusahaan yang besar berkontribusi dalam berbagai aspek humanistik masyarakat dan pemerintah, PT Adaro misalnya mereka dapat memanfaatkan air galian yang tercemar tambang batu bara untuk diproses kembali dengan melakukan filterisasi yang tepat sehingga dapat diminum, mereka menamakan program ini “Water Treatment Plant”. Selain itu dari proses pemanfaatan tambang itu pula mereka dapat membantu peningkatan sektor lain, sehingga jika sektor tambang telah habis ataupun mati sama sekali dalam puluhan tahun kedepan, akan ada sektor lain yang dapat berkembang menggantikannya . Ada sekitar ratusan sektor baik jasa  maupun perdagangan serta perikanan yang berhasil dikembangkan perusahaan tambang ini.
Akhirnya, sudah selayaknya pemerintah mampu membuka kembali lemari arsip mereka, tengoklah potensi sumber daya energi di Indonesia yang ribuan ini terutama panas bumi tadi, selain itu diharapkan berdasarkan UU Energi No 30 tahun 2007 pemerintah sepenuhnya menjalankan asas konservasi dan diversifikasi secara komprehensif demi kepentingan masyarakat. Dengan paradigma sumber daya energi yang berkonversi dari komoditas menjadi modal pembangunan tentu sangat diharapkan terwujudnya negara yang mampu menyejahterakan masyarakatnya dan mendorong ke arah pemenuhan sumber daya energi yang murah dan mudah bagi masyarakatnya.

Fakta tentang Sumber Daya Energi di Indonesia :
1.      Keperluan listrik di Indonesia hanya dapat terpenuhi 60% saja
2.      Perbandingan penggunaan energi Indonesia dengan Amerika Serikat adalah 1 : 20 . Dalam hal ini Indonesia memang sedikit menggunakan energi namun kurang efisien dalam pemanfaatannya.
3.      Peraturan perizinan pertambangan sebelum ada otonomi daerah adalah ratusan namun sesudahnya menjadi ribuan.
4.      Tambang Indonesia merupakan 1,3% cadangan tambang dunia.
5.      Konsumsi subsidi bahan bakar terbesar di Indonesia digunakan oleh mobil pribadi.
6.      Indonesia masuk 10 besar negara dengan potensi tinggi masuknya investor untuk usaha pertambangan namun Indonesia juga masuk 10 besar terendah sebagai negara dengan iklim tidak kondusif bagi pengusahaan tambang baik dari segi regulasi maupun akses nya.

By : Astia Putriana
S-1 Akuntansi
LPM Jurnal Kampus FE Unlam

Jumat, 20 April 2012

Fekon perlu "WARNA"


FEKON PERLU “WARNA”
Fakuktas Ekonomi memang sejak lama telah menjadi primadona di lingkungan Universitas Lambung Mangkurat. Bagaimana tidak, Fakultas Ekonomi memang dikenal sebagai kampusnya orang cerdas,kreatif dan berwawasan luas, selain itu mahasiswa dan mahasiswi Fakultas Ekonomi juga dikenal kritis dalam menghadapi berbagai fenomena yang terjadi di dalam masyarakat.
Berbicara tentang Fakultas Ekonomi, sepertinya kurang pantas jika hanya membahas tentang ruang lingkup mahasiswanya saja tetapi harus dalam lingkup yang lebih luas. Jika ditanya, disaat anda pergi ke toko buku dan ingin membeli sebuah buku, hal apakah yang menjadi acuan pertama dalam memilih buku? Pasti hal pertama adalah melihat covernya terlebih dahulu kan? kemudian membaca sinopsisnya lalu melihat harganya untuk kemudian mempertimbangkan untuk membelinya. Inilah ilustrasi yang akan sedikit berhubungan dengan Fakultas Ekonomi.
Saat pertama kali menginjakkan kaki di lobi Fakultas Ekonomi tentu hal pertama yang anda perhatikan adalah lingkungan sekitarnya kan, entah itu gedungnya maupun halamannya, sungguh tidak mungkin anda akan memperhatikan perilaku mahasiswa-mahasiswi dan dosen-dosennya terlebih dahulu dari satu ruangan ke ruangan lain. Suasana Fakultas Ekonomi memang sudah terlihat sejuk, asri dan hijau, telah banyak kontribusi dari berbagai pihak di lingkungan Fakultas Ekonomi Unlam untuk mewujudkan Fakultas Ekonomi yang bersih. Namun perlu ditinjau lebih lanjut justru hal ini berbanding terbalik dengan tampilan gedungnya, catnya sudah terlihat kusam dan kotor serta kurang enak dipandang, tidak selaras dengan lingkungan sekitar yang hijau ditambah lagi ada hal yang dirasa masih kurang di lingkungan Fakultas Ekonomi Unlam, seperti kurang jelasnya papan tulisan nomor ruangan di beberapa ruangan sehingga menyulitkan mahasiswa-mahasiswinya menemukan ruangan yang dituju, terutama mahasiswa baru, seperti penuturan salah satu mahasiswa baru, Suci Khairunnisa. “ Susah buat saya menemukan ruangan yang saya tuju, awalnya saya sudah berusaha mencari papan peta ruangan yang biasanya mudah ditemukan di tempat yang umum misalnya di halaman gedung, tetapi malah tidak ada, terpaksa saya harus mencari sendiri ruangan yang dimaksud, sangat merepotkan bertanya sana-sini”
Perlu pembenahan yang lebih luas lagi di Fakultas Ekonomi Unlam karena demi mewujudkan visi Fakultas Ekonomi Unlam untuk menjadi Fakultas yang terkemuka di Indonesia di tahun 2013, tak ada salahnya pembenahan dilakukan disemua sisi tidak hanya bagian pokoknya saja seperti pembinaan mahasiswa dan dosen disiplin, tetapi juga keselarasan dengan penunjangnya juga. Bukankah dengan lebih ber’warna’ dan lengkapnya fasilitas kampus akan meningkatkan kecintaan Mahasiswa akan kampusnya terlebih akan lebih bersemangat belajar di Kampus tercinta.
Memang ada pepatah yang mengatakan “Don’t judge a book by its cover” tetapi tak ada salahnya kan memperindah tampilan sebuah buku untuk menunjukkan betapa bagus dan berharganya buku itu?.

By : Astia Putriana
S-1 Akuntansi
LPM Jurnal Kampus FE Unlam

Mana ?


Mana ?

Kala harap dalam pengap
Kau meringis, menanti, menginginkan
Bergejolak sinergi rasa dan asa
Aku ingin menjabat nya

Emosi berteriak
Aku berhak sukses
Aku ingin sukses
Tapi kau tau kau lengah

Kau usaha
Tapi mana keringatmu ?
Kau berdoa
Tapi mana ketulusanmu?
Kau dalam ujian
Tapi mana kejujuranmu ?

By : Astia Putriana
S-1 Akuntansi
LPM Jurnal Kampus FE Unlam

Senin, 16 April 2012

I’m always in that way


Cause It’s only me
Thought that it would be more
But not
I’m in my way

When the life has gone
When the light shines the darkness
No, no matter
I’m always in my way

I got what the sun brings
I catch what the tree feels
I send what you sent to me
Yes, I am in that way

Never ever let me
Or I will be
As wild as lion
As strong as hurricane
As hot as fire

I’m always in that way
Always
By : Astia Putriana
S-1 Akuntansi
LPM Jurnal Kampus FE Unlam

“INTAN” Di PAPERMAN 2012


“INTAN” DI PAPERMAN 2012




Canda, tawa, tekanan, kecemasan, kelelahan semua itu ku rasakan di PAPERMAN 2012. Empat hari yang kupikir menjadi hari terberat dalam bulan ini ternyata justru 4 hari terhebat dalam sepanjang tahun ini. Menjadi bagian dari PAPERMAN 2012 merupakan suatu kebanggaan bagiku. Terlibat mengurus suatu acara Nasional yang menurutku masih langka dilakukan oleh LPM-LPM lain di Banjarmasin adalah seperti mendulang intan, melaui proses panjang namun pasti mampu mendapatkan intan ilmu dan pengalaman yang berharga setelahnya.
Aku terlibat dalam hal mengurus kedatangan delegasi ke Banjarmasin ini, ya aku bertugas di divisi LO selama PAPERMAN 2012. Tolong jangan tanyakan singkatan LO padaku, karena jujur beberapa kali teman-teman bertanya apa itu LO, aku berusaha mengeles dengan menyahut tanyakan pada Yasin karena dialah yang tau. Oke cukup tentang itu, semula aku rasa akan terasa berat menjalani tugasku ini karena aku sadar aku bukanlah tipe orang yang supel dan mudah bergaul dengan orang-orang baru kecuali melalui proses yang panjang, but suddenly I know, it’s not like what it seems.
Hari pertama, aku tau aku kurang membantu dalam pelaksanaan Workshop Jurnalistik hari  itu, aku punya alasan sendiri kenapa di pertengahan acara aku meninggalkan aula KNPI tersebut, aku punya komitmen untuk tidak meninggalkan kuliah serumit apapun keadaannya, ini juga kulakukan di acara-acara lain, dan aku akan terus berusaha dengan komitmen ini, semoga.
Malam hari, ketika malam belum terlalu larut dan riuh kendaraan masih silih berganti didepan Wisma Banjar yang kami diami untuk sementara pelaksanaan acara ini, kami berkumpul bersama teman-teman panitia dan seluruh delegasi yang beberapa berasal dari luar Banjarmasin. Kami semua berkenalan satu sama lain, berusaha berbaur dan berdiskusi santai membahas hakikat Persma sesunggunya. Disini keakraban mulai terbentuk, kami mulai menjalin “rantai’ yang selama ini ku rasa sudah terlepas.
Delegasi tahun ini menurutku terlalu sedikit, andaikan lebih banyak lagi mungkin PAPERMAN 2012 akan terasa lebih meriah, yaa aku tau ini salah satu keteledoran aku yang terlambat untuk mengundang para delegasi, jujur sekitar seminggu sebelum hari H aku baru menghubungi mereka untuk mengkonfirmasi kedatangan mereka. Tentu bukan hal mudah untuk menggaet mereka datang dengan waktu yang semepet itu, tapi aku berjanji jika PAPERMAN yahun depan diadakan kembali, aku ingin ditempatkan di divisi LO lagi dan menargetkan 25-30 orang delegasi yang dapat hadir.
 I hope
Berhubung aku berada di divisi LO, mungkin yang lebih banyak kuceritakan adalah para delegasi. Aku menikmati sekali kebersamaan dengan mereka, ternyata mereka tidak seseram kelihatannya, semula kupikir bang Nelson dan bang Defi itu sosok Mahasiswa yang keras dan berwibawa dengan kemampuan berorasinya yang briliant, namun ternyata tidak, justru mereka yang paling andil dalam memecah suasana menjadi lebih enjoy dan gokil.
Para delegasi ini ternyata bukan orang yang susah untuk diajak ngobrol, memang sejatinya mereka adalah orang-orang Pers yang pasti sudah terbiasa untuk berbicara di depan umum. Teman-teman dari LPM Sukma IAIN dan LPM Jelaga STMIK yang aku lihat begitu percaya diri dan bersemangat dalam menyampaikan semua gagasannya. Terutama saat presentasi hasil Wisata Redaksi dari Pasar Terapung dan Pulau Kembang di hari kedua PAPERMAN 2012.
Masing-masing delegasi memiliki sifat dan sikap yang berbeda-beda, ada yang hobi berdiskusi sampai larut malam, ada yang suka jahil , ada yang pendiam tetapi ternyata lebih suka ngobrolnya lewat sms, ada yang narsis banget dan banyak lagi, hahaha mereka memang unik dan itulah yang membuatku betah bersama mereka.
 Begitu banyak hal positif yang aku dapatkan dari PAPERMAN 2012 ini, aku belajar bagaimana menyesuaikan diri dengan orang-orang baru, aku belajar bagaimana saling menghargai, saling membantu antarpanitia, saling berbagi ilmu dan pengalaman dengan para delegasi. Semuanya begitu indah membentuk suatu pondok persahabatan dan keakraban yang tak mungkin didapatkan hanya sekedar duduk manis di bangku kuliah. Di PAPERMAN 2012 aku dan kalian menjadi bagian manis dari tahun 2012 ini.
Malam terakhir saat dinner anda gathering, mungkin menjadi moment menggembirakan dan mengharukan. PAPERMAN berakhir dan kami sudah berhasil menyelesaikan tugas kami disana dengan maksimal. Namun mengharukan, kami harus  berpisah dengan teman-teman delegasi yang selama 4 hari mewarnai PAPERMAN 2012. Ahh, seorang LO memang lekatnya dengan delegasi, dan aku memang sangat merasakan itu, selamat berpisah teman-teman, datanglah kembali kelak, jangan hiraukan jarak, karena kita bersama dalam PERS yang kita perjuangkan ! Salam PERSMA !

In this moment, we are together.
We are friends, we will never pole apart.

By : Astia Putriana
Divisi LO Paperman 2012

Minggu, 15 April 2012

Kembalilah Untuk Pers


KEMBALILAH UNTUK PERS



Hangat, kesan inilah yang pertama kali saya tangkap dari kepengurusan LPM Jurnal Kampus. Satu langkah kaki berpijak di lingkungan Fakultas Ekonomi Unlam, satu hal pula yang cukup menarik perhatian saya . Itulah sekelompok orang dengan pakaian hitam-merah bertuliskan LPM Jurnal Kampus dibagian punggungnya. Sungguh, LPM Jurnal Kampus sangat memberi kesan yang baik dimata saya saat saya pertama kali masih mengamatinya dari kejauhan sebagai mahasiswa baru. Ditambah lagi saat masa perkenalan UKM-UKM di kampus saat masa P2B , LPM Jurnal Kampus adalah satu-satunya UKM yang promosinya menurut saya “nendang” banget .
Sekitar 1 minggu setelah P2B , tak pikir panjang lagi saya mendaftar di LPM Jurnal Kampus, yaaa... kesan akrab dan kekeluargaan sangat terasa saat awal-awal saya membangun “hidup” saya dalam salah satu UKM terbaik ini. Para pengurusnya mampu dengan baik dan ramah membimbing kami dalam mempelajari seluk-beluk apa saja yang akan kami lakukan kelak di LPM ini. Tak ada yang lebih menyenangkan selain menghabiskan waktu bersama para pengurus dan sharing hal-hal apa yang dirasa mampu diangkat menjadi topik berita yang menarik untuk para pembaca . Seingat saya, job pertama yang saya dapat saat pertama kali bergabung di Jurnal Kampus adalah mengurus berita untuk Kampusiana. Bagi mahasiswa baru yang awam akan media dan pers dalam lingkup regional Banjarmasin, mengurus Kampusiana yang diterbitkan untuk harian Banjarmasin Post bagaikan mendapat durian runtuh, bagaimana tidak, disamping kami dapat memberi informasi dan menghibur pembaca lewat berita “renyah” yang kami sajikan, kami juga sangat bangga tulisan kami dimuat di koran yang cukup terkemuka di Banjarmasin.
Namun, saya rasa kehangatan dan kekeluargaan JK sekarang mulai terkikis oleh waktu, dalam beberapa minggu ini saja saya merasa kurang dapat lagi greget “pers” yang diagung-agungkan LPM Jurnal Kampus selama ini. Jurnal Kampus sekarang banyak fokus terhadap acara eksternal bukan lagi pada media yang seharusnya menjadi alat pemersatu internal ini. Tak ada yang salah dalam mengadakan acara-acara besar, namun sebaiknya kita tak perlu terlalu memprioritaskan dalam mengadakan acara-acara besar. Pers adalah tujuan utama kita, acara-acara hanya bagian dari bumbu pemanis LPM Jurnal Kampus.
Satu hal yang membuat saya miris, kemana kah semangat menulis teman-teman JK sekarang? Untuk berhadir dalam diskusi santai membahas lingkup Jurnal Kampus yang sering diadakan Bidang Produksi sendiri saja banyak teman-teman yang tidak dapat berhadir, bisa dihitung dengan jari teman-teman yang dapat hadir dalam diskusi ini. Apakah diskusi ini dianggap sangat membosankan sehingga peminatnya kurang? atau karena mereka terlalu sibuk? Tak ada yang patut disalahkan untuk hal ini, tapi yang penting untuk dipikirkan adalah bagaimana membangun JK kembali menjadi LPM yang eksis di kampus kita ini dengan lebih banyak memberi informasi berita terupdate kepada para mahasiswa. Tentu donk harus ada keterlibatan segenap teman-teman pengurus dalam memberi ide untuk berita.
Satu hal teman-teman JK semua, Pers yang menyatukan kita disini, kita seharusnya tidak usah sungkan untuk terus menulis dan menulis. Saya yakin banyak teman-teman yang meragukan bagus tidaknya berita atau opini yang mereka tulis, justru inilah fungsi Jurnal Kampus. Kalau semua anggotanya sudah ahli menulis berita , untuk apa lagi keberadaan Jurnal Kampus untuk membantu merangsang kita semua pandai menulis ?
            Di JK kita sama-sama belajar, kita sama-sama saling berbagi ilmu juga. Cintailah LPM kita ini, semangatlah untuk memajukan LPM kita ini . Kita tak perlu menjadi sempurna untuk menjadikan JK eksis dan maju, tapi sebuah keunikan, yakni PERS itu sendiri yang membuat kita ada. Show how unique we are ! It is better than extremely be perfect.

By : Astia Putriana
S-1 Akuntansi
LPM  Jurnal Kampus FE Unlam

Jangan kekang BEM dengan Proker


Jangan kekang BEM dengan Proker

BEM, Badan Eksekutif Mahasiswa dengan segala pengaruhnya di Fakultas Ekonomi kini terasa begitu jauh bagi mahasiswa. Badan yang semestinya menyalurkan aspirasi civitas akademika Fakultas Ekonomi ini dirasa kurang efektif dalam tiap kegiatannya. Bagaimana tidak, dari sekian banyak program kerja yang dijalankan BEM selama ini, dirasa hanya sekian persen yang memberi manfaat bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi itu sendiri.
Sebutlah acara AMPP, mungkin anda berpikiran bahwa acara tersebut memang baik sebagai wujud kepedulian mahasiswa sebagai insan sosial . Namun apa manfaatnya jika ditinjau dari segi internal?  Tak ada dampak berarti yang dirasakan mahasiswa non organisatoris atas adanya kegiatan tersebut.
Seorang yang memiliki kedudukan tinggi di Fakultas Ekonomi pernah berkomentar, entah berapa banyak acara yang telah dilaksanakan oleh mahasiswa aktif disini baik dari BEM maupun HMJ dan UKM, namun saya lihat justru acara-acara yang mereka adakan kurang memberi manfaat bagi panitianya itu sendiri. Cobalah bikin acara yang tidak hanya membuat cape tapi memberi manfaat bagi panitianya.
Sebuah organisasi sebesar BEM memang memiliki integritas yang tinggi dalam pencapaian mahasiswa yang tidak hanya sukses dalam akademik tapi juga bermutu dari segi attitudenya. Namun, disadari atau tidak , BEM seolah lebih tunduk pada “ratu” program kerja yang menuntut untuk dilaksanakan, tak bisakah BEM lebih merangkul kepentingan yang lebih pokok yakni mahasiswa Fakultas Ekonomi itu sendiri ?
Himpunan sendiri sebagai “anak” dari BEM dirasa memiliki kesamaan intrik dalam skenario journey of the activity nya, Himpunan seolah mendasarkan dirinya atas asas eksistensi, semakin besar ruang lingkup wilayah yang mampu ditembus sebuah acara yang mereka adakan, semakin lebar sayap keagungan nama mereka membentang di jagad universitas, namun kembali lagi tak selamanya pencitraan itu yang diandalkan , yang menjadi fokus utama adalah bagaimana himpunan itu menjadi “wadah” yang memang menghimpun mahasiswa jurusannya ke arah yang lebih baik, bukan sebagian, tapi semua. Maka dari itu, perbaikan orientasi tentu harus dimulai dari akarnya yakni BEM itu sendiri.
Sudah selayaknya BEM menilik lebih lanjut problematika ini, tak perlu sungkan dan tak perlu tutup telinga terhadap kendala umum ini, lakukan perbaikan dari segi program kerja, lebih seringlah melakukan dialog terbuka dengan mahasiswa-mahasiswa non organisatoris, karena siapa tau mereka memiliki aspirasi tak tersampaikan diakibatkan renggangnya relationship ini.

Mahasiswa kritis
Mahasiswa tak egois
Pun Mahasiswa tak semestinya apatis

By : Astia Putriana
S-1 Akuntansi
LPM Jurnal Kampus FE Unlam

Nanti


Mengurai asa dalam duka
Tak terlintas namun tak pula terbatas
Yakini sepi bukan dilema
Hanya itu , itu dan itu

Tau itu penting
Tau itu berharga
Tapi tak untuk kini
Masanya lewat
Atau justru didepan?

Aku diam
Tersentak dalam emosi
Tak mengapa
Ini akan berakhir
Dan akan segera datang lagi

Nanti

Nanti

Saat pohon itu meninggi.

By : Astia Putriana
S-1 Akuntansi
LPM Jurnal Kampus FE Unlam